Skip to content
192

Main Agenda: Grup ABMM di Sektor Logistik Sebut Jurus Hadapi Gejolak Geopolitik

Anthony Wilson - lintasnaya.com 3 mins read

okus Utama Main Agenda Main Agenda - Dalam menghadapi tantangan geopolitik yang semakin kompleks, Grup ABMM menegaskan bahwa Main Agenda menjadi pilar utama

Main Agenda: Grup ABMM di Sektor Logistik Sebut Jurus Hadapi Gejolak Geopolitik

Strategi Grup ABMM Hadapi Gejolak Geopolitik dengan Fokus Utama Main Agenda

Main Agenda – Dalam menghadapi tantangan geopolitik yang semakin kompleks, Grup ABMM menegaskan bahwa Main Agenda menjadi pilar utama dalam strategi pengembangan sektor logistik. Perusahaan yang terdiri dari PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics) dan PT ABM Investama Tbk. (ABMM) telah merancang langkah konkret untuk meningkatkan ketahanan rantai pasok di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dengan memadukan inovasi teknologi, kolaborasi lintas sektor, dan adaptasi terhadap perubahan politik, Grup ABMM menargetkan transformasi sistem logistik nasional menjadi lebih tangguh dan berkelanjutan.

Inisiatif Kolaborasi dalam Main Agenda Grup ABMM

Sebagai bagian dari Main Agenda, CKB Logistics meluncurkan CKB Supply Chain Forum 2026, yang bertujuan membangun ekosistem kolaboratif antara pelaku industri, regulator, dan organisasi terkait. Forum ini menyatukan sejumlah stakeholders seperti Supply Chain Indonesia (SCI) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), serta mencakup diskusi tentang bagaimana menyelaraskan kebijakan regulasi dengan inovasi logistik. Dalam pidatonya, Iman Sjafei, Direktur CKB Logistics, menegaskan bahwa Main Agenda ini dirancang untuk menghadapi dampak dari ketegangan geopolitik yang memengaruhi rantai pasok.

“Main Agenda kami mencakup kerja sama lintas sektor dan pemanfaatan teknologi digital sebagai kunci utama menghadapi gejolak geopolitik. Dengan menjalin sinergi yang kuat, kita dapat memitigasi risiko, meningkatkan responsivitas, dan memastikan distribusi tetap berjalan lancar,” kata Iman Sjafei dalam keterangan resmi, Minggu (28/6/2026).

Dalam wawancara terpisah, Ety Puspitasari, Direktur Logistik dan Distribusi CKB Logistics, menjelaskan bahwa pergeseran fokus pada Main Agenda telah mengarah pada pendekatan resilience-driven. Ia menekankan bahwa efisiensi biaya yang sebelumnya menjadi prioritas utama kini dikalahkan oleh kebutuhan menghadapi ketidakpastian global. “Main Agenda ini memastikan kita siap menghadapi berbagai skenario, mulai dari perubahan regulasi hingga gangguan operasional,” ujarnya.

Lima Pilar Utama dalam Strategi Resilience-Driven

Strategi resilience-driven Grup ABMM dibangun atas lima pilar utama: tata kelola risiko, visibilitas, fleksibilitas, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan. Setiap pilar dirancang untuk memperkuat kapasitas sistem logistik nasional dalam menghadapi tekanan eksternal. Pemanfaatan Digital Control Tower, misalnya, menjadi salah satu langkah konkret dalam meningkatkan visibilitas rantai pasok. Teknologi ini memungkinkan pemantauan operasional secara real time, sehingga mengurangi waktu respons terhadap gangguan.

Kerja sama dengan organisasi seperti Supply Chain Indonesia (SCI) juga menjadi bagian dari Main Agenda Grup ABMM. “Main Agenda kami didasarkan pada kolaborasi yang berkelanjutan, tidak hanya untuk memitigasi risiko, tetapi juga untuk menciptakan peluang pertumbuhan baru di tengah ketidakstabilan geopolitik,” kata Setijadi, Founder dan CEO SCI, dalam wawancara eksklusif. Ia menambahkan bahwa digital control tower bukan sekadar alat pemantauan, tetapi juga model operasional yang mengintegrasikan data, proses bisnis, sumber daya manusia, dan keputusan yang cepat.

Implementasi pilar-pilar ini memerlukan komitmen dari seluruh ekosistem logistik. Dengan peningkatan visibilitas dan fleksibilitas, Grup ABMM berharap dapat memperkuat kemampuan adaptasi perusahaan dalam menghadapi perubahan pasar. “Main Agenda kami menekankan bahwa ketahanan bukanlah tujuan akhir, tetapi proses yang terus berlangsung melalui pendekatan holistik,” jelas Ety Puspitasari, menambahkan bahwa keberhasilan strategi ini bergantung pada komunikasi yang efektif dan keterlibatan aktif para pemangku kepentingan.

Peluang dan Tantangan dalam Penerapan Main Agenda

Di tengah tantangan geopolitik, sektor logistik Indonesia dinilai masih memiliki potensi pertumbuhan signifikan. Menurut SCI, kontribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap PDB diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun pada akhir 2025 dan meningkat menjadi sekitar Rp1,7 triliun pada 2026. Hal ini menunjukkan bahwa Main Agenda Grup ABMM selaras dengan dinamika industri yang terus berkembang. Namun, tantangan utama tetap ada, seperti keterbatasan sumber daya, perbedaan kebijakan antar daerah, dan kesulitan mempercepat transformasi digital di sejumlah perusahaan kecil dan menengah.

Main Agenda juga mendorong perusahaan logistik untuk lebih proaktif dalam mengidentifikasi risiko yang mungkin terjadi. Dengan memetakan risiko end-to-end, perusahaan dapat merancang solusi kontingensi yang lebih efektif. “Main Agenda kami menjadi panduan untuk memastikan bahwa setiap aspek operasional dipersiapkan dengan matang, baik dalam kondisi normal maupun krisis,” ujar Iman Sjafei, menegaskan bahwa kolaborasi dengan organisasi seperti DJBC dan SCI menjadi bagian integral dari strategi ini.

Join the discussion