263

Kisah Rendang Gadih Tembus Pasar Ekspor Ke Lima Negara

codex-7226c4f5ef30441485a032c3f2c80577

Rendang Gadih Perluas Jejak Ekspor hingga Lima Negara

Lintasnaya.com – Produk kuliner dari Payakumbuh, Sumatra Barat, Rendang Gadih, berhasil memperluas pasar hingga ke Australia, Jerman, Taiwan, Swiss, dan Singapura. Perjalanan usaha yang dimulai dari dapur rumahan itu menunjukkan bahwa produk UMKM dapat memasuki pasar internasional melalui pengembangan yang bertahap, mulai dari menguji penerimaan konsumen lokal hingga memenuhi kebutuhan pengiriman jarak jauh.

Usaha ini didirikan pada 2015 oleh Deddy Syandera Putra. Pada masa awal merintis, Deddy masih bekerja di perusahaan manufaktur di Tangerang, Banten. Ia terbiasa membawa rendang buatan ibunya sebagai buah tangan bagi rekan-rekan kerja setelah pulang kampung. Respons positif terhadap cita rasa tersebut kemudian berkembang menjadi permintaan yang konsisten.

Dari situ, Deddy memutuskan menekuni usaha rendang secara lebih serius melalui PT Gadih Minang Anugerah. Rendang Gadih mengangkat kekayaan kuliner Sumatra Barat yang telah lama dikenal luas, dengan menempatkan rasa autentik Minang sebagai identitas utama produknya.

Berawal dari Produk Favorit Pasar Lokal

Ekspansi ke luar negeri tidak dilakukan dengan memilih produk secara sembarangan. Rendang Gadih terlebih dahulu melihat performa produknya di pasar domestik. Varian yang paling banyak dicari konsumen dalam negeri lalu dievaluasi kecocokannya untuk pasar tujuan di luar Indonesia. Setelah itu, produk diuji melalui penjualan ritel sebelum pengiriman diperbesar.

Pendekatan tersebut terbukti relevan ketika Rendang Gadih mengikuti Trade Expo Indonesia atau TEI, pameran perdagangan internasional tahunan yang digelar Kementerian Perdagangan sejak 1985. Ajang ini dirancang untuk mempertemukan produk unggulan Indonesia, termasuk hasil karya UMKM, dengan calon pembeli dari berbagai negara.

Di paviliun Pertamina, Rendang Gadih bertemu calon pembeli dari Australia. Ketertarikan pembeli itu justru tertuju pada produk andalan yang sebelumnya telah kuat di pasar lokal.

“Ternyata dia suka dengan hero product kita yang di lokal, jadi produk lokal kita itu yang dibawa ke Australia,” kata Deddy.

Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya memahami kekuatan produk sebelum memasuki pasar baru. Produk yang telah memiliki penerimaan baik di dalam negeri dapat menjadi titik awal untuk membangun kepercayaan pembeli internasional, selama kualitas, kemasan, dan kelayakan pasarnya tetap dipersiapkan dengan baik.

Kemasan Modern untuk Perjalanan Jauh

Salah satu kebutuhan utama dalam memperluas distribusi adalah menjaga mutu makanan selama proses pengiriman. Rendang Gadih menggunakan kemasan yang lebih modern agar kualitas produk dapat dipertahankan hingga 12 bulan. Masa simpan tersebut membuat produk lebih aman untuk dibawa dalam perjalanan jauh dan mendukung kebutuhan distribusi ke negara tujuan ekspor.

“Kini, Rendang Gadih menggunakan kemasan yang lebih modern agar bisa menjaga kualitas produk hingga 12 bulan sehingga aman dibawa ke perjalanan jauh,” kata Deddy.

Dalam proses ekspor, pengurusan perizinan dilakukan melalui kerja sama dengan forwarder. Deddy menilai pengurusan izin ekspor dari pemerintah sejauh ini telah berjalan cukup mudah bagi pelaku usaha yang menjalankan prosesnya dengan pendampingan logistik yang tepat.

“So far sih sudah oke, sudah mudah dan gampang kok,” ujar Deddy.

Pengiriman ekspor Rendang Gadih pertama kali dilakukan pada 2023 dengan tujuan Jerman. Setelah itu, pasar berkembang ke Australia dan Swiss, kemudian menjangkau Taiwan serta Singapura. Pengiriman masih dilakukan secara bertahap atau per batch, menyesuaikan pesanan pembeli, dari puluhan hingga ratusan pieces.

Rendang sapi iris menjadi varian yang paling banyak diminati, baik oleh konsumen dalam negeri maupun pelanggan di luar negeri. Di sisi lain, peluang permintaan juga muncul dari segmen haji dan umrah. Untuk kebutuhan tersebut, tersedia pilihan rendang jamur, ayam, serta teri balado.

Kapasitas Produksi dan Ragam Pilihan Produk

Dengan kapasitas produksi yang mencapai 10 ton per bulan, Rendang Gadih melihat ruang pertumbuhan permintaan masih terbuka. Portofolio produknya tidak hanya mencakup rendang daging sapi iris, tumbuk, dan suwir, tetapi juga rendang ayam, paru, jamur, nangka, serta singkong.

Produk pendukung seperti bumbu rendang dan bumbu kalio juga tersedia. Selain sajian rendang, usaha ini menawarkan aneka camilan khas Minang, antara lain keripik balado, keripik kentang, teri balado, dan keripik rendang telur. Harga produk berada dalam rentang Rp20.000 sampai Rp115.000, dari kemasan travel pack hingga ukuran 250 gram.

Ciri khas Rendang Gadih terletak pada pemakaian rempah asli Minang dan kelapa murni tanpa campuran. Karakter tersebut menghasilkan warna gelap khas rendang Payakumbuh serta rasa santan yang tetap terasa pada produknya.

“Warna hitamnya khas Payakumbuh, dan santannya benar-benar terasa,” tutur Deddy.

Untuk memperkuat kesiapan di pasar global, Rendang Gadih telah memiliki izin edar Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), sertifikasi halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Standar Nasional Indonesia (SNI), serta Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Kelengkapan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga standar produk, terutama ketika usaha memasuki jaringan distribusi lintas negara.

Pesan untuk UMKM yang Ingin Mulai Ekspor

Bagi pelaku UMKM yang ingin membawa produknya ke pasar internasional, Deddy menekankan bahwa langkah awal tidak harus langsung berupa pengiriman besar. Pesanan kecil dapat menjadi sarana untuk menguji pasar, mempelajari kebutuhan pembeli, dan membangun proses ekspor secara bertahap.

“Enggak usah mikir ekspor dalam kuantiti besar dulu langsung, jadi satuan dulu aja nggak apa-apa,” kata Deddy.

Perjalanan Rendang Gadih memperlihatkan bahwa pasar ekspor dapat dibuka melalui kombinasi produk yang sudah teruji, kemasan yang mendukung daya simpan, sertifikasi yang memadai, serta keberanian memulai dari skala kecil. Dari rendang yang dahulu dibawa sebagai oleh-oleh untuk rekan kerja, usaha ini kini membawa rasa khas Payakumbuh ke lima negara.

Frequently Asked Questions

What is Kisah Rendang Gadih Tembus Pasar Ekspor?

Kisah Rendang Gadih Tembus Pasar Ekspor is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kisah Rendang Gadih Tembus Pasar Ekspor matter?

Kisah Rendang Gadih Tembus Pasar Ekspor matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *