Cadangan Devisa RI Tembus US$146,5 Miliar, BI Tekankan Peran Stabilisasi Nilai Tukar
Lintasnaya.com – BI – Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tercatat sebesar US$146,5 miliar, angka yang setara dengan sekitar Rp2.600,8 triliun bila dikonversi menggunakan kurs JISDOR 31 Agustus 2026 di level Rp17.746 per dolar AS. Peningkatan ini menandai pemulihan bulanan dari posisi Juli yang berada di US$145,3 miliar, setelah sepanjang semester pertama tahun berjalan terjadi tekanan berkepanjangan terhadap likuiditas valuta asing negara.
Pergerakan tersebut tidak berdiri sendiri. Di balik kenaikan bulanan tersimpan dinamika penerimaan dan pengeluaran yang saling tarik-menarik. Penerimaan pajak, jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah menjadi faktor pendorong utama, sementara di sisi lain terdapat kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi pasar untuk meredam volatilitas rupiah.
Respons BI terhadap Ketidakpastian Global
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menguraikan bahwa intervensi stabilisasi nilai tukar merupakan respons langsung terhadap kondisi pasar keuangan global yang masih bergejolak. Dalam keterangannya pada Senin (7/9/2026), ia menegaskan:
“Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.”
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa otoritas moneter tidak sekadar mengamati pergerakan kurs, melainkan secara aktif mengelola likuiditas devisa agar gejolak eksternal tidak menjalar ke dalam perekonomian domestik. Dalam konteks 2026, tekanan dari kebijakan moneter negara-negara maju, fragmentasi perdagangan, serta volatilitas pasar obligasi global masih menjadi sumber ketidakpastian yang menuntut kewaspadaan ekstra dari bank sentral.
Rasio Kecukupan dan Standar Internasional
Dari perspektif kecukupan, posisi cadangan devisa akhir Juli 2026 setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor, atau 5,3 bulan apabila mencakup pula pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh melampaui ambang batas kecukupan internasional yang umumnya ditetapkan pada kisaran tiga bulan impor. Dengan margin keamanan yang cukup lebar, BI menilai bahwa bantalan devisa masih memadai untuk menopang ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan secara keseluruhan.
Keberadaan bantalan likuiditas sebesar ini juga memberi ruang kebijakan bagi otoritas moneter untuk melakukan intervensi pasar tanpa mengorbankan kapasitas fiskal negara. Bagi pelaku usaha yang bergantung pada impor bahan baku, ketersediaan devisa yang sehat berarti kepastian pasokan valuta asing untuk transaksi perdagangan tetap terjaga, sehingga rantai pasok tidak terganggu oleh kelangkaan dolar.
Prospek Arus Modal dan Sentimen Investor
Denny menambahkan keyakinan bahwa ketahanan eksternal akan terus terpelihara, ditopang oleh prospek aliran modal masuk yang tetap positif. Ia merujuk pada persepsi investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik serta daya tarik imbal hasil investasi yang masih kompetitif di tengah normalisasi kebijakan suku bunga global.
“Sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.”
Sentimen ini menjadi penting mengingat sebagian besar pendanaan eksternal Indonesia bersumber dari portofolio investasi di pasar surat berharga negara dan pasar saham. Selama persepsi risiko tetap terkendali dan fundamental ekonomi domestik menunjukkan ketahanan, arus modal tersebut dapat menjadi penyangga tambahan bagi posisi devisa.
Erosi Tahunan yang Masih Terjadi
Terlepas dari pemulihan bulanan, gambaran sepanjang tahun 2026 menunjukkan tren penurunan yang belum sepenuhnya berbalik. Sejak akhir Desember 2025, ketika cadangan devisa berada di US$156,5 miliar, posisi tersebut telah menyusut sekitar 6,4 persen atau setara US$10 miliar hingga mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Erosi ini mencerminkan akumulasi tekanan dari berbagai faktor, mulai dari pembayaran kewajiban utang jatuh tempo, intervensi pasar untuk meredam pelemahan rupiah, hingga arus keluar modal portofolio yang mengikuti siklus kebijakan global.
Penurunan dua digit dalam hitungan dolar miliar sepanjang kurang dari sembilan bulan tentu menjadi perhatian, namun konteksnya perlu dilihat secara proporsional. Dengan rasio kecukupan yang masih berada di atas standar internasional dan prospek arus masuk modal yang dinilai positif, ruang kebijakan BI untuk mengelola transisi tetap tersedia. Bank sentral menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam menjaga ketahanan eksternal, sehingga stabilitas perekonomian dan keberlanjutan pertumbuhan dapat terpelihara tanpa mengorbankan fleksibilitas kebijakan moneter di masa mendatang.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BI?
BI is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BI matter?
BI matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

