LintasNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pertamina NRE Dorong Pengembangan Bioetanol Multi-Feedstock

Published September 15, 2026 · Updated September 15, 2026 · By Anthony Wilson - lintasnaya.com

Foto : Anthony Wilson - lintasnaya.com

Pertamina NRE Resmikan Pusat Pengembangan Bioetanol di Lampung

Lintasnaya.com – Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) memulai pengembangan fasilitas percontohan bioetanol di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Bioethanol Development Center tersebut diresmikan pada Senin, 14 September, sebagai sarana untuk menguji pengembangan bioetanol dari beragam sumber bahan baku.

Fasilitas ini dirancang tidak hanya untuk proses produksi, melainkan juga mencakup pengembangan feedstock, budidaya tanaman, pengujian teknologi, serta pembuktian proses produksi dalam skala pilot. Kehadirannya diharapkan memperkuat kesiapan ekosistem bioetanol nasional dengan memanfaatkan potensi sumber daya di daerah.

Peluncuran pusat pengembangan ini dihadiri Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan, Direktur Manajemen Risiko PT Pertamina (Persero) Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Utama Pertamina NRE John Anis, serta Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.

Sejumlah mitra industri juga hadir, di antaranya Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto, Presiden Direktur Toyota Tsusho Indonesia (TTI) Toru Murakami, serta pemangku kepentingan dari kalangan pemerintah, akademisi, dan mitra strategis.

Pendekatan Multi-Feedstock dan Multi-Generation

Pertamina NRE mengembangkan pusat ini melalui pendekatan multi-feedstock dan multi-generation technology. Artinya, fasilitas tersebut akan mengeksplorasi berbagai pilihan bahan baku serta teknologi bioetanol generasi pertama atau 1G dan generasi kedua atau 2G.

Teknologi 1G memanfaatkan bahan yang menghasilkan gula atau nira, sedangkan teknologi 2G diarahkan pada pemanfaatan biomassa sisa. Kombinasi keduanya memberi ruang bagi pengembangan bioetanol yang lebih luas karena tidak hanya bergantung pada satu jenis komoditas atau satu tahapan pengolahan.

John Anis menyampaikan bahwa rancangan tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan potensi lokal sekaligus membangun fondasi bagi pengembangan industri bioetanol di Indonesia. Lampung menjadi lokasi penting dalam pengujian tersebut karena memiliki potensi komoditas pertanian yang dapat dikaji sebagai sumber bahan baku.

Salah satu tanaman yang mendapat perhatian ialah sorgum. Pertamina NRE melihat komoditas ini memiliki produktivitas yang menarik serta masa panen yang kompetitif untuk dikembangkan dalam skema bioetanol.

“Yang menarik dari sorgum ini, selain produktivitasnya, siklusnya juga bisa tiga kali panen dalam setahun,” ujar John.

Dalam skema yang disiapkan di Lampung, nira sorgum dapat diproses sebagai bahan bioetanol generasi pertama. Sementara itu, batang maupun biomassa yang tersisa setelah pengambilan nira berpotensi dikembangkan untuk bahan baku generasi kedua. Pola ini memungkinkan satu tanaman memberi manfaat pada lebih dari satu jalur pengolahan.

Kapasitas Pilot hingga 60 Kiloliter per Tahun

Bioethanol Development Center di Tegineneng memiliki kapasitas produksi sampai 60 kiloliter bioetanol per tahun. Kapasitas tersebut ditempatkan sebagai skala uji, sehingga fokus fasilitas adalah mengukur efektivitas beragam kombinasi bahan baku dan teknologi sebelum dikembangkan lebih lanjut.

Rangkaian proses yang akan diuji mencakup pre-treatment, hidrolisis, fermentasi, distilasi, hingga dehidrasi. Tahap pre-treatment juga menjadi bagian penting dalam pengolahan bahan baku 2G, terutama ketika sumbernya berasal dari biomassa yang memerlukan penanganan awal sebelum dapat diproses menjadi bioetanol.

Pengujian pada skala pilot memberi kesempatan untuk menilai kesesuaian teknologi dengan karakter bahan baku yang tersedia. Dari sisi pengembangan industri, proses tersebut penting untuk melihat bagaimana produksi dapat berjalan secara konsisten dan terintegrasi dengan kegiatan pertanian maupun pengolahan hasil komoditas.

“Pertamina NRE sangat berkomitmen dalam mendukung program Presiden dan cita-cita besar untuk mencapai produksi 1 juta kiloliter bioetanol per tahun dengan sistem multi-generation,” kata John Anis.

Kerja Sama untuk Agribisnis dan Industri

Peluncuran fasilitas turut disertai penandatanganan dua nota kesepahaman. Kesepakatan pertama melibatkan Pertamina NRE dan Pemerintah Provinsi Lampung. Kolaborasi ini mencakup pengembangan agribisnis, penguatan ketahanan energi, serta ketahanan pangan di wilayah Lampung.

Nota kesepahaman kedua ditandatangani Pertamina NRE bersama TMMIN, TTI, dan Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels atau raBit. Kerja sama tersebut membuka penjajakan atas kelayakan teknis dan komersial produksi serta pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia.

Ruang lingkup kolaborasi meliputi studi kelayakan, pengembangan dan penerapan teknologi, serta pertukaran pengetahuan dan pengalaman. Keterlibatan pihak industri otomotif dan organisasi riset memperluas pembahasan bioetanol dari sisi produksi hingga kemungkinan pemanfaatannya pada sektor transportasi.

Todotua Pasaribu menilai pengembangan bioetanol dapat mempertemukan sektor pertanian, industri, teknologi, investasi, dan masyarakat dalam sebuah mata rantai ekonomi energi terbarukan. Ia juga menyoroti sejumlah arah pengembangan di Lampung, termasuk reaktivasi, sinergi dengan PTPN, pengembangan sorgum terintegrasi 1G dan 2G, hilirisasi singkong dan jagung, serta konversi pabrik.

“Lampung memiliki 430 ribu KL, dengan strategi utama reaktivasi, sinergi dengan PTPN, pengembangan sorgum terintegrasi generasi pertama (1G) dan generasi kedua (2G), pilot Bioethanol Development Center atau pusat pengembangan percontohan biomassa, hilirisasi singkong, hilirisasi jagung serta konversi pabrik, sehingga dapat mendukung ketahanan energi,” ujar Todotua, Senin (14/9).

Mochamad Iriawan menyatakan dukungannya atas peluncuran pusat pengembangan tersebut. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM serta Gubernur Lampung dalam pembangunan fasilitas itu.

Dengan dimulainya operasi Bioethanol Development Center, Lampung memasuki tahap baru dalam pengembangan percontohan bioetanol. Fasilitas ini menjadi tempat untuk menguji bagaimana bahan baku lokal, teknologi produksi, dan kerja sama lintas sektor dapat dipadukan dalam upaya memperkuat ketahanan energi.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Pertamina NRE Dorong Pengembangan Bioetanol Multi?

Pertamina NRE Dorong Pengembangan Bioetanol Multi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pertamina NRE Dorong Pengembangan Bioetanol Multi matter?

Pertamina NRE Dorong Pengembangan Bioetanol Multi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.